Memperingati Maulid Nabi Muhamad Saw. ( 12 Rabiul Awal 1447 H )
Dalam pembacaan Maulid Nabi ada bagian yang dibaca dalam keadaan berdiri sebagai simbol penghormatan akan kedatangan Rasulullah Saw. sejak pertama kali kelahirannya. Disebut Mahal al-Qiyam. Yang dibaca dalam Mahal al-Qiyam adalah rangkain syair yang empat bait di antaranya merupakan bait yang dahulu pernah dilantunkan para sahabat Anshor saat menyambut kedatangan Rasulullah Saw di Madinah. Yaitu bait:
Bait-bait lainnya ditambahkan pertama kali oleh Syaikh Abu Hasan al-Syasyturi (w. 668 H.) yang di antara bait fenomenalnya adalah:
"Anta Samsun " Engkaulah mentari.
"Anta Badrun " Engkaulah purnama
"Anta Nurun Fauqo Nuri " Engkaulah cahaya di atas cahaya.
"Anta Ikhsiru Wa Ghali " Engkaulah iksir dan ghali
"Anta Misbahu Suduri " Engkaulah pelita hati.
Pada penggalan pertama dari bait kedua ada kata iksir (إِكْسِيرٌ). Yaitu kata yang tak asing lagi bagi Masyarakat Maulidan. Tapi barangkali pengertian dan makna semantiknya belum banyak yang mengetahui. Dari para kiyai yang sempat saya dengar, iksir adalah sejenis kayu gaharu yang sangat mahal. Dan dalam syarah salah satu Kitab Maulid, iksir adalah pohon atau tanaman mitologi yang mempunyai khasiat mengubah madu menjadi emas dan mengubah susu menjadi perak hanya dengan dicelupkan kedalamnya. Dalam kitab-kitab Lughah, iksir adalah zat kimia mitologi yang dapat mengubah barang-barang tambang semacam tembaga dan besi atau lainnya menjadi emas murni. Berupa serbuk, cairan, atau ramuan. Bahkan iksir versi Yunani Kuno merupakan batu. Disebut Batu Filosof (Hajar al-Falasifah). Iksir berasal dari bahasa Yunani, Xeryus. Dalam bahas Inggris disebut elixir. Erat kaitannya dengan mitos tentang keabadian dalam kebudayaan Yunani Kuno, Mesir Kuno, India Kuno, dan Cina Kuno. Disebut Elixir of Live. Yakni iksir bukan hanya dapat mengubah logam biasa menjadi emas murni tapi juga dapat memberikan keabadian kepada siapa saja yang mengkonsumsinya Pada zaman Dinasti Qin di Cina, kaisar Qin Shi Huang (247 SM – 221 SM) mengutus tabib Xu Fu bersama 500 orang laki-laki dan 500 orang perempuan untuk mencari iksir ke Lautan Timur guna meraih abadi. Tampaknya seperti ma al-hayat (مَاءُ الحَيَاة) dalam mitologi Arab. Tapi mereka tidak pernah kembali. Lalu kaisar Qin Shi Huang mencarinya sendiri dengan ditemani 1000 orang gadis. Tapi juga sang kaisar tak dikabarkan kembali. Iksir ditemukan pula dalam risalah India Kuno, Arthashastra (350 SM – 283 SM). Dikisahkan dewa Indra, dewa Agni dan dewa Bayu dengan melibatkan tiga dewa utama, yaitu Brahma, Wishnu, dan Siwa mencari iksir ke laut terdalam. Berkejaran dengan setan-setan yang juga menghendaki abadi. Lalu para dewa berhasil meminumnya sedang setan-setan tidak. Dalam ajaran agama Kristen ditemukan ayat yang mengarah kepada iksir. Yaitu tentang air dan atau ramuan keabadian dalam Yohanes pasal 4 ayat 14. Demikian pula dalam Mazmur 118. Jabir bin Hayyan (w. 194 H.), ulama ahli kimia pertama dan penemu aque regia, campuran asam klorida, dan asam nitrat (salah satu zat yang dapat melarutkan emas), berasumsi bahwa iksir bukan mitos. Karena menurutnya, transmutasi satu logam ke logam yang lain dapat dilakukan dengan penataan kualitas dasar melalui mediasi zat kimia khusus. Yaitu iksir. Namun sayang Jabir bin Hayyan belum sampai berhasil menemukan zat iksir yang dimaksudnya. Imam al-Razi (w. 606 H.) dalam kitab tafsir-nya menyinggung soal iksir sekaligus menunjukan kesepakatannya dengan teori Jabir bin Hayyan tentang mungkinnya transmutasi logam. Dia mengatakan: “Sebutir dzarrah dari iksir yang agung apabila jatuh ke permukaan tembaga maka akan mengubahnya menjadi emas murni.”
Di Barat, sejak abad ke 13 sampai 17 Masehi, penelitian tentang keberadaan iksir sebagai zat kimia yang belum ditemukan mengemuka melalui ilmuwan-ilmuwa terkenal semisal Albertus Magnus, Thomas Aquinas (1280 M.), Paracelsus, Nicolas Flamel, dan Isaac Newton sampai kepada menemukan Sophic Merkuri yang dapat melarutkan emas dan menumbuhkannya seperti pohon untuk transmutasi. Tapi mereka belum terbukti membuat emas dengan Sophic Merkuri itu yang juga tidak diketahui entah kemana rimbanya.Ketika para ilmuan di Barat mengembangkan ilmu kimia warisan Jabir bin Hayyan (di Barat disebet Geber) termasuk tentang iksir maka para ulama muslim membawa iksir ke ranah spiritual. Iksir menjadi tanaman atau benda spiritual. Dia mengubah benda menjadi emas bukan secara kimia tapi secara spiritual. Saya diberitahu ada tirakat dan wirid khusus untuk bisa menemukan tanaman iksir. Namun sangat disayangkan hal itu hanya katanya saja. Saya sendiri belum mendapatkan ijazah wiridnya. Juga belum berhasil menemukan guru yang bisa saya pinta dan saya pelajari ijazahanya. Artinya iksir yang dapat mengubah benda biasa menjadi emas murni atau memberikan keabadian pada pengkonsumsinya sejak zaman Cina Kuno dan Yunano Kuni hingga hari ini masihlah mitos. Belum nyata. Oleh karenanya syaikh Abu Hasan al-Syasyturi (w. 668 H.) membawa pemahaman umat kepada realitas yang sesungguhnya tentang iksir. Yaitu Rasulullah Saw. Dia mengatakan:
(Ya Rasul) engkaulah iksir…
Yang dicari manusia, seperti misalnya kaisar Qin Shi Huang dan lain-lain,
juga yang termaktub dalam kitab-kitab kuno, sepanjang masa, tentang iksir yang
dapat mengubah benda biasa menjadi emas murni dan memberikan keabadian, tak
lain iksir itu adalah Muhammad Saw. Bukan sulap bukan sihir. Dia mampu
mengubah gurun pasir yang tandus menjadi negeri yang kaya dan maju. Mengubah
masyarakat yang jahiliyah menjadi berperadaban. Mengubah watak yang keras
menjadi lembut. Dalam bahasa lagu, mengubah debu menjadi permata dan mengubah
hina menjadi mulia. Dia sebenarnya iksir yang dicari.
Pegang Quran dan sunnah-nya, maka peradaban emas pun hadir.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيهِ
1. Yaa
Rasullaah
➝ Wahai Rasulullah
Ungkapan panggilan penuh hormat dan cinta
kepada junjungan Nabi Muhammad ﷺ, utusan Allah yang menjadi pembawa risalah Islam dan rahmat
bagi seluruh alam.
2. Anta (أنتَ)
➝ *Engkaulah
Menegaskan
bahwa hanya Rasulullah ﷺ yang sedang diseru, dituju, dan diagungkan dalam kalimat
ini.
3. Ikhsir (إكسير)
➝ Ikhsir / Eliksir /
Permata berharga
Kata ini
berasal dari bahasa Arab yang berarti sesuatu yang sangat bernilai, penawar, atau
harta yang tiada banding. Dalam konteks ini, Rasulullah ﷺ dipuji sebagai harta paling berharga
bagi umat manusia.
4. Wa Gholi
(و غالي)
➝ Dan yang paling mahal / paling mulia
Menunjukkan
bahwa Rasulullah ﷺ adalah sesuatu yang paling bernilai, tiada taranya, lebih
tinggi dari segala yang ada di dunia ini.
Ungkapan “Yaa Rasullaah Anta Ikhsir wa Gholi” secara keseluruhan bermakna:
Wahai Rasulullah, Engkaulah permata yang paling berharga dan yang paling mulia dalam hidup kami.” Kalimat ini adalah seruan penuh cinta, pengakuan atas kemuliaan Rasulullah ﷺ, serta bentuk kerinduan seorang hamba yang ingin selalu dekat dengan baginda Nabi.
Ungkapan “Yaa Rasullaah Anta Ikhsir wa Gholi” bukan sekadar kata-kata, melainkan bagian dari tradisi panjang dalam dunia Islam yang penuh dengan syair, qasidah, dan sholawat yang dilantunkan oleh para ulama serta pecinta Rasulullah ﷺ.
1. Akar
dalam Tradisi Qasidah
Kalimat ini
banyak ditemukan dalam syair-syair pujian (qasidah) yang berkembang di dunia
Islam, khususnya di wilayah Timur Tengah. Para penyair sufi dan pecinta Rasul
menggambarkan Rasulullah ﷺ dengan kata-kata yang indah dan penuh makna, salah satunya
dengan menyebut beliau sebagai *ikhsir* (eliksir / permata berharga) dan
*gholi* (yang paling mulia, mahal, dan tinggi nilainya).
2. Dipopulerkan
dalam Sholawat & Majelis Maulid
Dalam
tradisi maulid dan hadrah, terutama yang berkembang di dunia Arab, Yaman, dan
kemudian menyebar ke Nusantara, kalimat ini sering dijadikan bagian dari bait
pujian. Lantunan *“Yaa Rasullaah Anta Ikhsir wa Gholi”* terdengar dalam
berbagai majelis sholawat sebagai bentuk kerinduan yang diungkapkan lewat
syair.
3. Makna
dalam Tasawuf & Cinta Rasul
Dalam
perspektif tasawuf, kalimat ini mencerminkan konsep bahwa Rasulullah ﷺ adalah “penawar hati” dan “permata
ruhani” bagi umat. Beliau adalah penghubung antara makhluk dengan Sang
Pencipta, cahaya yang membimbing manusia keluar dari kegelapan. Oleh karena
itu, menyebut beliau sebagai *ikhsir* (eliksir kehidupan) dan *gholi* (yang
tiada ternilai) adalah simbol kerinduan dan pengakuan atas kemuliaannya.
4. Masuk ke Nusantara
Di
Indonesia, ungkapan ini dikenal melalui lantunan-lantunan qasidah dan sholawat
yang dibawa para habaib dan ulama, khususnya dari tradisi Hadramaut (Yaman).
Hingga kini, dalam berbagai majelis dzikir, haul, dan maulid, ungkapan ini
masih sering dilantunkan sebagai bentuk mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ.
Pengertian Iksir
1. Secara
bahasa (Arab & Persia):
Kata *iksīr* berasal dari bahasa Arab yang
diserap dari bahasa Yunani dan Persia kuno, yang maknanya merujuk pada
**eliksir** atau **zat yang sangat berharga dan langka**.
2. Dalam
istilah klasik (alkimia):
*Iksir* dikenal sebagai zat yang diyakini
bisa mengubah logam biasa menjadi emas atau perak, dan juga dipercaya sebagai
ramuan penawar segala penyakit serta sumber kehidupan. Karena itu, kata *iksir*
sering dimaknai sebagai **“penyembuh, penawar, dan sesuatu yang sangat mahal
nilainya.”**
3. **Dalam
bahasa kiasan & sastra Islam:**
Para penyair, ulama, dan pecinta Rasulullah ﷺ menggunakan kata *iksir* sebagai
**simbol sesuatu yang paling berharga dan paling mulia**, yang jika hadir akan
menghidupkan hati, menenangkan jiwa, serta mengubah kegelapan menjadi cahaya.
Makna
*Iksir* dalam ungkapan *“Yaa Rasullaah Anta Iksir”*
Ketika
disebut *“Yaa Rasullaah Anta Iksir”*, artinya:
➡ *“Wahai Rasulullah, engkau adalah eliksir kami, engkau adalah permata yang paling berharga, penawar hati, dan sumber cahaya dalam kehidupan kami.”
Dengan kata
lain, Rasulullah ﷺ dipuji sebagai “harta paling mulia” yang lebih bernilai
daripada segala isi dunia.
Perbandingan
Makna *Iksir
1. *Iksir*
dalam Ilmu Alkimia
*
**Asal-usul:** Dalam tradisi alkimia (ilmu kimia kuno), *iksir* dikenal sebagai
zat yang dianggap mampu mengubah logam biasa menjadi emas atau perak.
* **Makna:**
Ia sering disebut sebagai *eliksir kehidupan* (elixir of life), dipercaya bisa
memberikan umur panjang, menyembuhkan segala penyakit, dan memberikan kekuatan
luar biasa.
*
**Simbol:** Dalam dunia filsafat dan ilmu kuno, *iksir* menjadi lambang dari
sesuatu yang sangat berharga, sulit dicari, dan mampu mengubah keadaan dari
rendah menjadi mulia.
2. *Iksir*
dalam Tasawuf dan Sastra Islam
*
**Asal-usul penggunaan:** Para penyair sufi dan pecinta Rasulullah ﷺ meminjam istilah ini untuk
menggambarkan kedudukan Nabi dalam kehidupan ruhani.
* **Makna:**
Rasulullah ﷺ adalah
*iksir hati* — penawar segala resah, penghidup jiwa, dan harta paling mahal
yang tak ternilai.
*
**Simbol:** Dalam tasawuf, *iksir* berarti sesuatu yang dapat “mengubah logam
hati manusia” yang keras dan gelap menjadi “emas ruhani” berupa iman, cinta,
dan kedekatan dengan Allah. Rasulullah ﷺ dipandang sebagai wasilah terbesar dalam perubahan
itu.
* **Dalam
alkimia**, *iksir* adalah zat fisik yang diyakini bisa mengubah logam biasa
menjadi emas serta menyembuhkan penyakit.
* **Dalam
tasawuf**, *iksir* adalah kiasan rohani yang melambangkan Rasulullah ﷺ sebagai penawar hati, cahaya
kehidupan, dan harta tak ternilai yang mampu mengangkat derajat manusia menuju
kesempurnaan iman.
Dengan demikian, ketika seorang pecinta Rasul ﷺ berkata *“Yaa Rasullaah Anta Iksir”*, ia sebenarnya ingin menegaskan bahwa **Rasulullah adalah eliksir sejati bagi jiwa — lebih berharga dari segala emas, lebih menyembuhkan daripada segala obat, dan lebih mulia dari segala harta di dunia.
Rasulullah ﷺ adalah *iksir hati* — penawar dari segala resah, cahaya yang menuntun dari gelap menuju terang. Baginda adalah permata berharga yang tiada taranya, lebih mahal dari segala emas dunia, lebih indah dari segala perhiasan. Cinta kepada beliau menghidupkan jiwa, sholawat kepadanya menjadi obat bagi hati yang gersang, dan mengikuti sunnahnya adalah jalan menuju kemuliaan sejati. Maka ketika lidah berbisik, *“Yaa Rasullaah Anta Iksir,”* sejatinya hati sedang mengaku bahwa hanya dengan cintanya, hidup ini bernilai, dan hanya dengan mengikuti jejaknya, langkah menuju Allah menjadi ringan dan penuh cahaya.Rasulullah ﷺ adalah *iksir* — penawar hati yang gersang, permata berharga yang mengubah duka menjadi cahaya, dan harta sejati yang tak terganti. Beliau juga adalah *gholī* — kemuliaan yang tiada ternilai, lebih mahal dari segala perhiasan dunia, lebih luhur dari segala kekuasaan yang fana. Maka ketika hati berbisik, *“Yaa Rasullaah Anta Iksir wa Gholī,”* sejatinya seorang hamba sedang mengaku bahwa Rasulullah ﷺ adalah penawar jiwa sekaligus kemuliaan sejati. Dialah yang dengan cintanya hidup menjadi bernilai, dan dengan teladannya langkah menuju Allah ﷻ menjadi terang.